Pengakuan Kefa, Siswi DCC yang Pindah Sekolah ke Semarang Bolos Tiga Hari agar bisa Bertemu Mantan Teman
Oleh arixs
TOKOH, Senin, 25-February-2008
Suasana belajar yang menyenangkan merupakan idaman bagi para siswa untuk mengasah kecerdasan dan mengembangkan talentanya. Denpasar Children Centre (DCC) berupaya menciptakan suasana seperti itu.
Suasana itulah yang selalu melekat dalam benak para siswanya, sehingga betah berlama-lama di sekolah. Suasana itu pulalah yang dirindukan oleh seorang mantan siswi SD Cerdas Mandiri DCC yang terpaksa pindah sekolah ke Semarang, mengikuti ayahnya yang pindah tugas.
Adalah Ekklesia Kefa Wijaya, siswi kelas III SD di Semarang yang pindahan dari SD Cerdas Mandiri DCC. Ia terpaksa membolos dari sekolahnya selama tiga hari (Kamis - Sabtu) agar bisa mendapatkan ‘’suasananya” yang hilang. Dengan alasan ada urusan penting keluarga, Kefa -nama kecil anak itu- meninggalkan Semarang bersama ibunya ke Bali.
Turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai, Kefa langsung minta diantarkan ke DCC -sekolahnya yang lama di Jalan Bedugul 18C, Sidakarya, Denpasar. Di DCC, Kefa pernah tercatat sebagai siswa mulai dari playgroup, TK, sampai kelas II SD.
Ia rupanya sangat rindu dengan mantan teman-teman sekelasnya, suasana belajar, guru-gurunya dan Direktur DCC Ir. IGA Oka Suryawardani, M.Mgt. Seperti mendapatkan terapi, Kefa tampak sangat berbahagia. Ia pun diperkenankan berbaur belajar di kelas bersama teman-temannya yang hampir setahun ditinggalkan ke Semarang. “Saya kangen dengan teman-teman dan ingin bergabung kembali. Saya tidak betah sekolah di Semarang, karena kurang bisa berkonsentrasi. Teman-teman dalam satu kelas banyak sekali. Berisik seperti suasana pasar,” kata Kefa didampingi ibunya Rossalia Regina Murwati, Jumat (16/11) lalu. Berbeda ketika ia sekolah di DCC. Kendati sekolahnya sampai sore, ia tidak merasa lelah. Suasana belajar juga sangat menyenangkan.
Bu Dani, demikian panggilan akrab Direktur DCC mengatakan, ketika di DCC prestasi Kefa sangat bagus, dapat ranking IV di kelas, serta berbakat sebagai MC. Pihaknya memang berupaya menciptakan sistem pemelajaran yang menyenangkan, menjadikan anak-anak cerdas dan mandiri. “Interaksi yang intensif antara anak-anak dengan teman dan gurunya betul-betul diciptakan agar suasana belajar menyenangkan,” ujar dosen Unud ini.
Hal itu diakui oleh Rossalia Regina Murwati, ibu kandung Kefa. Bakat anaknya juga betul-betul tersalurkan di DCC. Demikian juga pengakuan Kefa tentang kurang konsentrasinya di sekolah yang baru. “Di Bali ia tidak pernah mengeluh capek. Tapi sejak sekolah di Semarang ia sering cemberut sepulang sekolah,” kata Rossalia.
Kedatangannya ke DCC ingin mengobati kerinduan Kefa, kendati mesti membolos dari sekolah. Mudah-mudahan setelah datang dari Bali, Kefa kembali bergairah belajar di sekolahnya di Semarang. “Memang sih Kefa kepingin balik lagi bersekolah di DCC.
Tetapi, karena ayah Kefa -Wijaya Imam Santosa- pindah tugas ke Semarang, tentu kami tidak bisa memenuhi harapan Kefa. Yang bisa kami lakukan adalah selalu berdoa agar ayahnya pindah tugas kembali ke Bali,” katanya.